Selasa, 05 Januari 2010

SELAYANG PANDANG PERKEMBANGAN SENI LUKIS JAMBI

SELAYANG PANDANG PERKEMBANGAN SENI LUKIS JAMBI
Ditulis Oleh Herman
Monday, 10 August 2009
Periode Awal Kemerdekaan

Pada masa periode awal kemerdekaan, kegiatan seni lukis di daerah Jambi tidak terlihat secara rinci. Hal ini dapat disebabkan karena masih terjadinya gejolak situasi yang tidak menentu akibat perjuangan fisik menghadapi penjajah. Dalam sejarah era revolusi kemerdekaan di daerah Jambi dijelaskan bahwa pada tahun 1949 Belanda masih tetap berkuasa. Gencatan senjata dengan pihak Belanda baru terlaksana pada tanggal 11 Oktober 1949. Pada masa ini pun para seniman banyak terlibat konfrontasi dan memikul senjata untuk melawan penjajah.

Sekitar awal tahun 1950 muncul seorang seniman bernama Abdullah Wahab dengan nama panggilan Ya’i. Pada mulanya Ya’i hanyalah seorang tukang gambar dan pembuat poster, kemudian bersama-sama rekannya Rohadi, beliau mulai melukis pemandangan.

Awal tahun 1955 muncul lagi beberapa seniman, seperti MS. Hadi, Noor Saga, Doyok dan Sie Sun. Kegiatan mereka pada saat itu lebih banyak membuat poster dan menjadi tukang gambar berdasarkan pesanan. Lukisan-lukisan mereka tidak banyak ditemukan, sehingga sulit untuk dilacak keberadaannya sekarang. Pada tahun 1959, seniman daerah Jambi mulai merancang suatu kelompok seniman yang dipelopori oleh Letkol. Rd. Rahman, M. Muchtar yang saat itu selaku kepala kebudayaan Jambi, Rd. Suhur, Ahmad Zah dan Rd. Tayib Sabiman. Pada masa inilah seniman mulai bangkit dengan daya kreativitasnya. Mereka tidak lagi sekedar tukang gambar atau pembuat poster, tetapi telah mulai menuangkan gagasannya secara kreatif ke dalam kanvas.

Kepedulian masyarakat sudah kelihatan serta simpati untuk mengoleksi karya-karya mereka. Namun, sangat disayangkan karena karya-karya mereka pada periode ini tidak tahan lama akibat bahan yang yang tidak baik mutunya, karya-karya pada Periode Awal Kemerdekaan ini sulit ditemukan lagi. Kecuali karya mereka yang ada pada masa perkembangan berikutnya, itupun terbatas pada karya MS. Hadi, Noor Saga dan A. Haris.



Periode Pepeldad

Pepeldad singkatan dari Persatuan Pelukis Daerah Djambi, lahir pada awal tahun 1960. Diketuai oleh Rohadi dengan wakilnya MS. Hadi. Para seniman-seniman yang tergabung di dalam Pepeldad waktu itu cukup aktif. Kreativitas mereka ditandai dengan diselenggarakannya pameran bersama yang pertama kali. Pameran tersebut diselenggarakan berkat dukungan seorang pengusaha yang mensponsorinya. Gedung yang pertama kali digunakan adalah Gedung Nasional (Gedung BKOW, sekarang).

Para pelukis yang melaksanakan pameran pada saat itu adalah MS. Hadi, Noor Saga, Doyok, Abdullah Wahab dan Sie Sun. Misi kegiatan pameran ini adalah pelelangan karya, hasilnya digunakan untuk menunjang kelanjutan daya kreativitas seniman bersangkutan. Pada masa itu, peran serta pihak pemerintah untuk menunjang peningkatan dan pembinaan seniman belum begitu kelihatan. Sekitar tahun 1961, para seniman mendapat kepercayaan untuk membuat tugu di Taman Makam Pahlawan yang pelaksanaan pembangunan tersebut dikoordinir oleh Letkol. Rd. Rahman dan dikerjakan oleh MS. Hadi, Abdullah Wahab, Rohadi, Doyok dan Noor Saga.

Pada tahun 1962 muncul organisasi yang dinamakan Kader Pelukis Indonesia dan Sanggar Seruja. Kedua organisasi ini merupakan pembagian dari anggota Pepeldad yang lama ditambah dengan anggota baru.

Kader Pelukis Indonesia (KPI) dipelopori oleh Noor Saga, Ali Umar, Haris dan Simbolon. Sedangkan Seruja (Seni Rupa Jambi) dipelopori oleh MS. Hadi, Doyok dan Tukiran.



Periode Seruja

Pada awal awal tahun 1963, keberadaan Kader Pelukis Indonesia mulai surut. Perkembangan kegiatan seni lukis lebih banyak dilakukan kelompok Seruja yang diketuai oleh MS. Hadi. Pada tahun 1963, mereka mengadakan pameran di Singapura dengan misi kesenian Rangkayo Hitam.

Pada tahun 1971, MS. Hadi bersama sanggar Seruja mulai mendidik beberapa pelukis pemula, antara lain Suherman, Joko KR, Sumardi DS dan Junaidi. Kegiatan berpameranpun mulai sering dilakukan, tercatat beberapa kali para seniman mengadakan pameran lukisan, yaitu pada tahun 1973, 1976, 1977, 1978, 1979 dan 1980.

Pameran yang dilakukan pada tahun 1979 mencatat sebuah sejarah baru, Pada tahun ini tema lukisan tidak lagi terpaku pada pemandangan, buah-buahan dan binatang yang realis, tetapi sudah mulai menghadirkan perpaduan baru yang mengarah pada gaya modern art.

Pada tahun 1980, perkembangan semi lukis semakin menyeruak, para pelukis angkatan muda memperlihatkan karya-karya kreatif mereka. Suherman muncul dengan ekspresinya, Sumardi DS dengan gaya kubis, Fauzi Z dengan gaya impresif, Sabri Jamal dengan gaya semi figurnya.

Pada pameran inilah nama Firman yang kini dikenal sebagai grafikus handal Indonesia mulai tampil ke depan.



Periode Pembaharuan

Tahun 1982, BBKNI kotamadya Jambi mempelopori pelaksanaan pameran bersama. Pameran ini menandai kiprah seorang pendatang baru dalam seni lukis Jambi, Ja’far Rassuh.

Catatan menarik dalam pameran yang diadakan tahun 1982 ini adalah munculnya berbagai macam corak gaya lukisan. Noor Saga, Tukiran, Sunaryo dan Junaidi muncul dengan gaya dekoratif, Ja’far Rassuh dan Suherman dengan gaya ekspresif, Fauzi Z dengan gaya Impresif, sedangkan Sumardi DS tampil dengan karya patung dan sketsanya. Agus Hadi dengan karya patung dan lukisan realisnya dan beberapa pelukis lainnya seperti Dadang, Nanang Hadi, Suhojo, Joko KR dan M. Pakpahan tampil dengan gaya yang berbeda pula.

Akhir tahun 1982, pameran bersama kembali dilakukan. A. Rosyad, seorang pelukis otodidak menjadi pendatang baru dengan gaya khasnya yang mengarah pada surealis dalam karya kaligrafi.

Tahun 1983, dua pelukis muda melakukan pameran di Gedung Wanita. Firman dan Suherman tampil dengan gayanya masing-masing. Suherman dengan lukisan cat minyak dan lukisan hitam putih yang bergaya ekspresi, sedangkan Firman tampil dengan gaya realis, potret wajah serta beberapa desain grafis.

Pada tahun 1984 ditandai dengan berdirinya sanggar Tanah Pilih Jambi yang dimotori oleh Ja’far Rassuh, Fauzi Z, Sumardi DS dan Rd. Rizal.

Tahun 1985, atas gagasan beberapa perupa Jambi dibentuk Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jambi dalam upaya pengembangan kaderisasi. Sementara itu, hingga tahun 1988 bermunculan sanggar-sanggar seni lukis lainnya, yakni Prapanca yang dimotori oleh Suherman, Mayang Mengurai oleh Thomas Heru Sudratat, Adyanari oleh Heri dan Agustina dan Merah Putih oleh Arifin Akhmad dan Anik Arifin.

Dalam memeriahkan hari jadi ke – 32 Provinsi Jambi pada tahun 1989, sebanyak 27 orang pelukis memamerkan karyanya di Gedung Wanita bekerja sama dengan Kanwil Depdikbud Jambi. Di samping kegiatan pameran, juga dilaksanakan diskusi seni lukis bersama Ja’far Rassuh dan Suherman yang menghasilkan wacana dibentuknya wadah baru bagi perupa Jambi.

Tahun 1990, kembali dalam rangka memeriahkan hari jadi ke – 33 Provinsi Jambi, seniman lukis bersama Kanwil Depdikbud Provinsi Jambi melakukan pameran di Gedung Olah Seni (Taman Budaya Jambi, sekarang). Pameran ini juga diisi dengan diskusi yang membahas karya-karya yang dipamerkan. Tampil sebagai pembicara waktu itu adalah Ali Umar, Ja’far Rassuh, Fauzi Z, Maman MS dan Rapuan Kamal yang selanjutnya diadakan pertemuan khusus untuk merumuskan pembentukan wadah senirupawan Jambi.

Pada tanggal 16 Februari 1990 di Gedung SMSR Jambi, diadakan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan terbentuknya suatu wadah yang diberi nama Himpunan Seni Rupawan Indonesia Jambi (HSRIJ) dengan susunan kepnegurusan yang disepakati melalui musyawarah ditunjuk Ja’far Rassuh sebagai Ketua Umum dan Maman Suherman sebagai Sekretaris Umum.

Program kegiatan HSRIJ pada waktu itu dititikberatkan pada pembinaan organisasi dan para anggota serta peningkatan apresiasi, pembinaan dan pengembangan kegiatan kesenirupaan di daerah Jambi.

HSRIJ, benar-benar sangat memacu kreativitas para perupa Jambi, setidak setiap tahun selalu dilaksanakan kegiatan pameran bersama. Beberapa karya pelukis terkemuka Indonesia seperti Abbas Alibasyah, AJ. Pirous, Ahmad Sadali, Bagong Kusudiardjo, Danarto, Irsam, Kusnadi dan Popo Iskandar pernah mereka dampingi dalam ajang pameran bersama.

Pada suatu waktu, Kusnadi sekalu pengamat dan kritikus Seni Rupa Indonesia menyatakan bahwa karya-karya yang ditampilkan para pelukis Jambi cukup menarik dan mengejutkan.

Kiprah HSRIJ yang monumental adalah memprakarsai Pameran Lukisan dan Dialog Perupa Se-Sumatera (PLDPS) yang digelar pertama kali pada tanggal 9 s.d 14 Oktober 1993 di Jambi. Kegiatan yang membawa dampak positif dalam perkembangan seni lukis Sumatera dan khususnya Jambi.

Pada saat ini, disamping kegiatan bersama atau perorangan, beberapa pelukis Jambi kerap mengikuti berbagai kegiatan pameran baik di tingkat regional, nasional dan bahkan bertaraf internasional.

Tantangan ke depan bagi perupa Jambi adalah lebih dapat menyikapi perkembangan situasi, disamping menumbuhkan kaderisasi dengan tetap memperhatikan kualitas karya.

sumber: tamanbudayajambi.com

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kapan ne ada jurusan seni rupa di unja???

Anonim mengatakan...

mas,
saya cucunya bpk.h.noorsaga
dan saya masih menyimpan 3 dari karya kakek saya,
gimana mas ?

Poskan Komentar